Kamis, 24 Mei 2018, WIB

Sabtu, 18 Feb 2017, 10:57:43 WIB, 662 View Miia Hanjarwati, Kategori : Artikel

Dalam keseharian, tidak jarang kata “gender” disalahartikan dengan perempuan dan segala urusan menyangkut perempuan. Apakah gender memang melulu soal perempuan? Sebagai contoh, dalam berbagai sesi pelatihan menyangkut gender masih sering terdengar komentar seperti: Para gender yang di belakang, berkebaya, silakan maju ke depan. Ataupun dalam beberapa wawancara, sering terdengar: Kita akan meningkatkan peran gender dan laki-laki.

Dalam pemaknaan kalimat-kalimat tersebut jelas bahwa gender ditujukan untuk menggantikan perempuan. Guna menjelaskan kata gender, cara termudah adalah dengan mengerti terlebih dahulu apa perbedaan gender dan sex (jenis kelamin).


Dalam keseharian, tidak jarang kata “gender” disalahartikan dengan perempuan dan segala urusan menyangkut perempuan. Apakah gender memang melulu soal perempuan? Sebagai contoh, dalam berbagai sesi pelatihan menyangkut gender masih sering terdengar komentar seperti: Para gender yang di belakang, berkebaya, silakan maju ke depan. Ataupun dalam beberapa wawancara, sering terdengar: Kita akan meningkatkan peran gender dan laki-laki.

Dalam pemaknaan kalimat-kalimat tersebut jelas bahwa gender ditujukan untuk menggantikan perempuan. Guna menjelaskan kata gender, cara termudah adalah dengan mengerti terlebih dahulu apa perbedaan gender dan sex (jenis kelamin).

Dalam keseharian, tidak jarang kata “gender” disalahartikan dengan perempuan dan segala urusan menyangkut perempuan. Apakah gender memang melulu soal perempuan? Sebagai contoh, dalam berbagai sesi pelatihan menyangkut gender masih sering terdengar komentar seperti: Para gender yang di belakang, berkebaya, silakan maju ke depan. Ataupun dalam beberapa wawancara, sering terdengar: Kita akan meningkatkan peran gender dan laki-laki.

Dalam keseharian, tidak jarang kata “gender” disalahartikan dengan perempuan dan segala urusan menyangkut perempuan. Apakah gender memang melulu soal perempuan? Sebagai contoh, dalam berbagai sesi pelatihan menyangkut gender masih sering terdengar komentar seperti: Para gender yang di belakang, berkebaya, silakan maju ke depan. Ataupun dalam beberapa wawancara, sering terdengar: Kita akan meningkatkan peran gender dan laki-laki.

Dalam pemaknaan kalimat-kalimat tersebut jelas bahwa gender ditujukan untuk menggantikan perempuan. Guna menjelaskan kata gender, cara termudah adalah dengan mengerti terlebih dahulu apa perbedaan gender dan sex (jenis kelamin).

Ketidakadilan gender banyak terjadi pada perempuan. Hal inilah yang kemudian melahirkan banyak kegiatan dan intervensi untuk menaikkan taraf hidup perempuan baik sebagai langkah affirmative action (aksi mendukung) maupun lebih jauh lagi hingga pemberdayaan (empowerment).

Tulisannya mendapat banyak sambutan hangat dari feminis Amerika di Washington dan langsung mengadopsi pendekatan WID ke dalam seluruh pendekatan USAID ke seluruh dunia. Hingga pada tahun 1975 - 1985 ditetapkan sebagai UN Decade for Women. Dalam pelaksanaannya, WID banyak bertumpu pada program-program peningkatan ekonomi khusus pada perempuan (women-only project) seperti mikrokredit, peningkatan kapasitas dan pelatihan dan peningkatan akses perempuan ke kredit.

Pemberdayaan Perempuan: Instrumentalis ataukah Transformasi Kekuasaan yang Sesungguhnya?

Hanya saja, dalam perkembangannya, fokus WID yang terisolasi hanya pada perempuan menuai kritikan, yang kemudian merubahnya menjadi Gender and Development (GAD). Pertama, ketika hanya berfokus pada perempuan, maka transformasi power tidak akan terjadi antara laki-laki dan perempuan, sehingga segala cara yang dilakukan tidak mengatasi permasalahan struktural (enabling environment) tetap menyebabkan posisi perempuan menjadi subordinan laki-laki.

Kedua, WID mencoba mengintegrasikan perempuan ke dunia usaha dalam ranah publik, tetapi tidak mengatasi permasalahan kesenjangan dalam ranah rumah tangga, sehingga malah melahirkan beban ganda bagi perempuan.

Ketiga, WID tidak melihat heterogenitas status sosial, ekonomi dan budaya antarsesama perempuan, dan menganggap perempuan homogen. Padahal dalam banyak contoh kasus, keuntungan dan posisi kepemimpinan hanya melibatkan perempuan elit, yang tidak otomatis membela kepetingan perempuan miskin.

Pendekatan GAD lahir dengan asumsi dasar bahwa sebetulnya akar permasalahan ada pada stuktur kekuasaan dan ketimpangan hubungan gender (unequal gender relations) lah yang menghalangi pembangunan dan partisipasi perempuan. Puncak dari era ini adalah lahirnya strategi Pengarusutamaan Gender pada 1995 melalui Beijing Conference. Pendekatan ini kemudian tidak hanya bertumpu pada pendekatan ekonomi khusus pada perempuan sebagai welfare approach, tapi hingga pemberdayaan sesungguhnya (empowerment). Karena, ternyata pendekatan ekonomi dan peningkatan pendapatan tidak serta merta mendobrak ketidakadilan gender yang dialami perempuan, selama struktur kekuasaan (budaya, ekonomi, politik) tidak berubah.

Segala upaya intervensi tidak melulu kepada peningkatan ekonomi, melainkan didukung oleh perubahan paradigma dan transformasi kekuasaan laki-laki kepada perempuan, termasuk meningkatkan peran perempuan dalam posisi pengambilan keputusan. Strategi yang digunakan pun tidak melulu bertumpu pada perempuan, tapi sudah mengakomodasi kebutuhan, pengalaman, aspirasi dan ketidakadilan yang dialami laki-laki. Paradigma melihat laki-laki bukan lelaki sebagai masalah, tapi sebagai mitra sejajar yang harus mulai dilibatkan dalam upaya-upaya mencapai kesetaraan hubungan keduanya.

Di Indonesia sendiri, kini hadir beberapa Aliansi dan gerakan pelibatan laki-laki untuk mencapai kesetaraan gender. Namun tentunya perlu waktu dan proses yang tidak cepat hingga sampai ke ranah paradigma kesetaraan gender dimana tidak ada lagi pelabelan negatif dan pengkotak-kotakan peran yang berasal dari pembakuan peran yang tidak adil terhadap laki-laki dan perempuan.

Peran informasi dan advokasi saja tidak cukup untuk meningkatkan peran perempuan dalam ranah publik. Namun, perubahan pada tataran struktural dan paradigma-lah kunci utamanya. Itulah upaya sejati untuk menggapai kesetaraan dan keadilan gender. Ketika hubungan antara laki-laki dan perempuan dan antara perempuan dan perempuan sudah tidak lagi dibeda-bedakan, antara kaya miskin dan pembakuan peran gender yang merugikan, niscaya itulah kesetaraan (equality) dan keadilan (equity) yang sesungguhnya. [KMP 2]

 





Tuliskan Komentar