Kamis, 24 Mei 2018, WIB

, 23 Mei 2016, 00:00:00 WIB, 36 View Administrator, Kategori : Berita

Yogyakarta, CyberNews. Proses inundasi (genangan air) menjadi faktor penyebab terhadap percepatan laju perkembangan permukiman kumuh. Di kota Semarang, perkembangan pemukiman kumuh dari tahun ke tahun memperlihatkan penambahan signifikan. Perkembangan pemukiman kumuh di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu disertai dengan semakin bertambahnya areal permukiman.

"Permukiman yang terkena inundasi di Kota Semarang mencapai 47,68 persen,' kata Drs Moh Gamal Rindarjono MSi dalam ujian promosi doktor pada Program Studi Geografi UGM.

Menurut staf pengajar Jurusan Geografi UNS itu, fenomena inundasi di Kota Semarang terjadi di saat musim hujan. Inundasi di kota tersebut tidak hanya disebabkan oleh bentuk lahan yang relatif rendah, tetapi juga direklamasinya daerah kantong-kantong air. Bahkan diperburuk dengan sistem drainase kota yang mengikuti aliran Kali Semarang.

Dikatakan, terjadinya pemukiman kumuh umumnya disebabkan dua faktor yakni faktor proses penuaan dan proses pemadatan. Di Indonesia pada umumnya proses pemukiman kumuh berlangsung akibat proses penuaan. Proses penuaan itu terjadi akibat bertambahnya usia bangunan yang berakibat adanya kerusakan bangunan. 'Dari hasil penelitian saya di Semarang, sangat kecil ditemukan kerusakan struktur bangunan akibat proses penuaan,' imbuhnya.

Dia menyebutkan, daerah pusat Kota Semarang, kerusakan bangunan mayoritas disebabkan proses penuaan. Sedangkan di daerah pinggiran kota, kerusakan bangunan didominasi adanya inundasi.

Terbentuknya genangan air di pinggiran Kota Semarang, katanya, lebih disebabkan akibatnya adanya reklamasi penimbunan rawa dan sungai. Hal itu berdampak pengaturan arus sungai menjadi kurang lancar, penurunan muka air tanah. 'Saat musim hujan, airnya ke mana-mana akhirnya menuju ke pemukiman yang membangun rumah di daerah reklamasi ini,' ujarnya seraya mengatakan bahwa inundasi menyebabkan 54,3 persen pemukiman menjadi kumuh.

Disampiakan pula, perkembangan pemukiman kumuh di Kota Semarang semakin memperlihatkan kondisi kualitas lingkungan yang semakin menurun. Hal itu ditandai dengan kondisi fasilitas umum dari tahun ke tahun semakin berkurang dan tidak memadai. Berikutnya, makin tingginya wabah  penyakit seperti DB, Diare dan penyakit kulit. (*)

Oleh : Bambang Unjianto (SM)





Tuliskan Komentar